Posting Yang kedua apa ya..???
masih bingung mau nulis apa nie,, soalnya gue Cuma pengen curhat. Yaa.. maklumlah gue gag terbiasa numpahin isi hati gue lewat tulisan. Karena biasanya gue lebih suka diem.. cemberut gag jelas. Dasarnya gue emank orang yang pendiem.. gag suka ngomong kalo gag penting.
Ya udah deh.. kali ini gue mau cerita tentang perjalanan gue keliling masjid di Jawa Tengah. Wwiiihh.. gile gag si, traveler banget gue.. hhaaa… tapiii gue numpang bareng jama’ah Ta’lim Ponpes Miftahussalam Banyumas. Secara, gue dapet amanat jadi bagian dokumentasi,, ya tukang moto-moto gitu deh. gag pha-pha si, gue gag ngrasa repot dapet tugas kaya gitu. Emank dari dulu, gue suka ama kamera digital, handycam,,, pokoknya apa aja yang bias ngabadiin gambar-gambar and video lucu dari temen-temen gue. Tenang aja besok-besok gue posting deh, hasil editing sederhana gue… so pasti gambar yang gue ambil tanpa sepengetahuan si korban. Hehe (emank suka jail)
Lanjut,,, Perjalanan di mule sekitar pukul 24.00 WIB dari Banyumas. Yang rencananya jam 22.00 WIB mundur sampe jam segitu, karena bisnya yang telat.. katanya si bocor apa gimana gtu… tancap gas, langsung menuju ke semarang. Tepatnya mehuju ke masjid Agung Jawa Tengah.. lama juga sii, shubuh baru nyampe sana. Di perjalanan, bosen (karna ngantuk), asik (karena baru pertama kali), ngantuk (karena cape), laahh pokoknya nano-nano yang gue rasain di bus pas berangkat.
1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam… sampe juga di tempat tujuan. Yaitu : “Masjid Agung Jawa Tengah” gede bgt...!!! gila….!!! Berhektar-hektar luas masjidnya.. gue gag apal infonya.. jadi gue copas infonya dari mbah tercinta.. google.. cek it out :
Kota Semarang merupakan kota yang kaya akan tempat ziarah dan obyek wisata religi. Sebut saja Klenteng Agung Klenteng Agung Sam Poo Kong dan klenteng-klenteng kecil di Kawasan Pecinan, Gereja Blenduk dan Gereja Gedangan di Kota Lama, Pagoda Avalokiteswara di Watu Gong, hingga Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) di Jalan Gajah. Berbeda dengan yang lainnya, selain memiliki fungsi sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Jawa Tengah juga berfungsi sebagai pusat pendidikan dakwah Islam dan pelayanan umat. Di masjid ini siapapun dapat belajar tentang sejarah peradaban Islam melalui perpustakaan yang lengkap dan museum yang ada di kompleks masjid.
Diresmikan pada tahun 2006, kompleks masjid yang megah ini memiliki fasilitas yang lengkap seperti convention hall, kios suvenir, kios makanan, gedung perkantoran, perpustakaan, hotel, hingga menara pandang. Secara arsitektur, Masjid Agung Jawa Tengah memiliki keunikan yaitu memadukan arsitektur Timur Tengah dan Roma tanpa melupakan ciri khas bangunan Jawa.
Gaya Timur Tengah terlihat dari kubah dan empat mineratnya. Gaya bangunan Jawa terwakili dalam desain tanjung di bawah kubah utama. Sedangkan pengaruh Yunani jelas terlihat pada 25 pilar yang terletak di plaza utama. Pilar-pilar berwarna ungu yang dipadukan dengan kaligrafi itu menyerupai bangunan Coloseum di Roma. Masjid Agung Jawa Tengah juga dilengkapi dengan 6 payung hidrolik raksasa yang bisa membuka dan menutup secara otomatis. Payung raksasa ini mengadopsi arsitektur Masjid Nabawi di Madinah.
Gaya Timur Tengah terlihat dari kubah dan empat mineratnya. Gaya bangunan Jawa terwakili dalam desain tanjung di bawah kubah utama. Sedangkan pengaruh Yunani jelas terlihat pada 25 pilar yang terletak di plaza utama. Pilar-pilar berwarna ungu yang dipadukan dengan kaligrafi itu menyerupai bangunan Coloseum di Roma. Masjid Agung Jawa Tengah juga dilengkapi dengan 6 payung hidrolik raksasa yang bisa membuka dan menutup secara otomatis. Payung raksasa ini mengadopsi arsitektur Masjid Nabawi di Madinah.
Tak jauh dari masjid, terdapat sebuah menara setinggi 99 meter yang disebut dengan nama Menara Asmaul Husna. Menara yang melambangkan kebesaran dan kemahakuasaan Allah ini dilengkapi dengan lift yang akan membawa pengunjung menuju puncak menara guna menyaksikan keindahan Masjid Agung Jawa Tengah serta Kota Semarang dari ketinggian. Saat mengitari puncak menara, pandangan YogYES tertumbuk pada deretan teropong yang disediakan oleh pengelola masjid. Teropong tersebut bisa digunakan jika pengunjung memasukkan koin lima ratusan lama yang berwarna kuning. Setelah mengobrak-abrik isi tas, akhirnya YogYES menemukan satu koin dan bisa digunakan untuk memakai teropong selama 5 menit.
Puas berada di puncak menara, YogYES turun ke lantai 3 guna menyaksikan Museum Peradaban Islam. Museum dua lantai ini menyimpan koleksi yang beragam, mulai dari dokumentasi sistem pendidikan pesantren, naskah kuno, kumpulan kitab, miniatur masjid, contoh ornamen masjid, hingga Al Quran raksasa yang ditulis menggunakan tangan. Saat keluar dari menara, azan magrib berkumandang, semua orang terlihat bergegas menuju masjid dan suasana berubah menjadi senyap.
Nnnaaahhhh…. Itu info lengkapnya. Masih kurang..??? Tanya aja ma mb ah,, ^^
Udh ya.. gue cuma bentar di sana, numpang sholat, mandi (gue kaga), and makan pagi. Oiya.. lupa, narsis bentar ma adik-adik kecil gue …
Lanjut ke objek yang kedua, yaitu masjid Agung Demak. Asli, kaget jug ague pas kesana, masjid yang isinya makam juga tempat ziarah. Gue aja mau sholat di sana gag jadi karena ngeri. Cuma duduk di serambi museum dekt masjid itu.. makan pop mie sama Jihan.
Kalo soal, info lengkap tentang masjidnya… musti Tanya lagi nie… hehee
Saksi bisu penyebaran agama islam di tanah air yang berumur lebih dari 500 tahun masih berdiri kokoh di seputar alun-alun Kabupaten Demak. Masjid Agung Demak begitu bangunan itu disebut masih menjadi daya tarik sendiri para pecinta sejarah untuk berkunjung. Mereka penasaran dengan masjid tempat berkumpulnya para wali songo itu.
BERBEDA dengan bangunan masjid saat ini yang berkiblat ke negeri timur tengah, arsitektur Masjid Agung Demak sangat 'jawa'. Atap berbentuk limas dari masjid yang terletak di desa Kauman, Kabupaten Demak, Jawa Tengah menjadi penegasnya. Bentuk yang hampir tidak berubah sejak didirikan pada raja Kesultanan Demak pertama, Raden Patah sekitar abad 15 masehi membuat penasaran pengunjung. Khususnya empat tiang kayu yang menjadi penyangga masjid.
Di dalam masjid ada empat tiang besar setinggi 17 meter dengan masing-masing dituliskan nama wali. Ada yang bertuliskan sunan ampel, Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Pengunjung yang penasaran tidak jarang beberapa kali menyentuh tiang yang konon katanya dibawa langsung oleh para sunan.
Di dalam masjid ada empat tiang besar setinggi 17 meter dengan masing-masing dituliskan nama wali. Ada yang bertuliskan sunan ampel, Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Pengunjung yang penasaran tidak jarang beberapa kali menyentuh tiang yang konon katanya dibawa langsung oleh para sunan.
Masjid Agung Demak dipercaya menjadi tempat berkumpulnya sembilan wali tanah jawa. Masjid Agung Demak merupakan bangunan yang juga menegaskan adanya Kesultanan Demak sekitar abad ke-15 Masehi yang dipimpin oleh Raden Patah kala itu.
Arsitektur masjid ini terdiri atas bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru yang kono berasal dari serpihan-serpihan kayu dan disebut juga saka tatal. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan.
Selain itu, ada juga “Pintu Bledeg”, bertuliskan Condro Sengkolo, yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H. Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat sebuah Museum Masjid Agung Demak, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.
Udah tau kan…. Nah itu baru objek kedua … masih ada dua objek lagi yang bakal di tuju… nie yang ketiga, rombongan majlis ta’lim mau berkunjung ke masjid yang punya menara,, kaya di film “Lima Menara” itu lloohh…. Iya,, betul banget.. kita langsung berkunjung ke Masjid Kudus (yang punya Menara Kudus). Kaget juga si pas kesana. Sesak.. penuh, rame banget.. malahan sempat liyat ada mahasiswa dari Malaysia yang lagi penelitian. Ko’ tau?? Ya tau lah,, dah keliyatan dari bahasanya pas ngobrol.

