I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada abad pertama Hijriah sampai hingga akhir abad
petama Hijriah, hadist-hadist berpindah dari mulut kemulut,
masing-masing perawi meriwayatkannya berdasarkan kepada kekuatan
hafalannya. Saat itu mereka belum mempunyai motif yang kuat untuk membukukan
hadist,karna hafalan mereka terkenal kuat. Namun demikian, upaya perubahan
dari hafalan menjadi tulisan sebenarnya sudah berkembang dimasa Nabi.
Setelah Nabi wafat, pada masa Umar Bin Khattab
menjadi Khalifah ke-2 juga merencanakan untuk meghimpun hadist-hadist Rasul
dalam satu kitab, namun tidak diketahui mengapa niat itu gagal dilaksanakan.
Ketika Kekhalifah dipegang oleh Umar Bin Abdul Aziz yang dinobatkan dalam tahun
99 Hijriah merupakan seorang khalifah dari Dinasti Umayyah yang terkenal adil
dan wara’, sehingga beliau dikenal sebagai Khalifah Rasyidin yang kelima,
tergerak hatinya membukukan hadist karena diakhawatir para perawi yang
membendaharakan hadist didalam dadanya telah banyak yang meninggal, apabila
tidak dibukukan maka akan lenyap dan
juga semakin banyak kegiatan pemalsuan hadist yang dilakukan.
Dilatar belakangi oleh perbedaan politik dan perbedaan mazhab
dikalangan umat islam dan semakin luasnya daerah kekuasaan islam maka semakin
komplek juga permasalahan yang dihadapi umat islam.
Untuk itu pada kesematan ini kami akan membahas tokoh
ulama Ahlul Hadits yang bernama al-Hakim dan al-Baihaqi, peran beliau sungguh
sangat besar sumbangsih beliau dalam perkembangan jaman tentunya di bidang
hadist serta bidang-bidang lain. Untuk mengetahui dan memahami biografi
al-hakim dan al-baihaqi untuk mengetahui sumbangsi al-hakim dan al-baihaqi di
bidang hadist untuk mengetahui karya-karya al-hakim dan al-baihaqi.
BAB II
I.
PEMBAHASAN
A. Al-Hakim
1. Biografi
Periode berikutnya adalah Abu Hamid Asy- Al-Hakim,
yang berasal dari Nisyapur, memiliki sejumlah besar guru di Khurasan, Irak,
Transoxiana dan di tempat lain. Dia telah mengeluarkan puluhan mahasiswa
terkenal, termasuk Imam al-Baihaqi yang merupakan raksasa ilmiah atas haknya sendiri.
Al-Hakim memperoleh reputasi besar untuk menulis
Al-Mustadrak 'alaa al-Sahihain. Beliau mulai menulis Al-Mustadrak ketika beliau
berumur 72 tahun. Al-Hakim telah mengatakan: "Aku minum air dari Zamzam
dan meminta Allah untuk keunggulan dalam menulis buku". Nama Imam
al-Hakim adalah Abu Abdillah Al-hakim Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin
Na’im bin Al-hakam Adh-dhabbi Ath-Athahmani An-Nasaiburi Al-Hafidz yang
terkenal dengan sebutan Ibnu Bayyi’.
Dia lahir pada tanggal 3 bulan Rabiul Awal tahun 321
HIjriyah.
Abu Abdillah Al-hakim menuntut ilmu semenjak masih kecil melalui bimbingan dan arahan ayah serta paman dari ibunya. Adapun pertama kali dia mendengarkan hadits tahun 330 Hijriyah ketika baru berumur 7 tahun. Dia mendapatkan hadits secara imla’ dari Abu Hatim Ibnu Hibban pada tahun 334 Hijriyah.
Abu Abdillah Al-hakim menuntut ilmu semenjak masih kecil melalui bimbingan dan arahan ayah serta paman dari ibunya. Adapun pertama kali dia mendengarkan hadits tahun 330 Hijriyah ketika baru berumur 7 tahun. Dia mendapatkan hadits secara imla’ dari Abu Hatim Ibnu Hibban pada tahun 334 Hijriyah.
Setelah itu, Abu Abdillah Al-hakim melakukan
perjalannya mencari ilmu dari Naisaburi ke Irak pada tahun 341 Hijriyah. Selang
beberapa bulan setelah Ismail As-Syaffar meninggal dunia. Kemudian dia melakukan
ibadah haji dan selanjutnya meneruskan perjalannya mencari ilmu ke negeri
Khurasan, daerah ma wara’an an-nahri dan lainnya. Adapun para guru Abu Abdillah
Al-hakim di Nisabur sendiri jumlahnya mencapai 1000 syaikh. Sedangkan guru-guru
yang diperoleh selain dari Nisabur pun kurang lebih 1000 syaikh.
Sebagaimana yang dikatakan Al-Khalil bin Abdillah di
depan bahwasannya Abu Abdillah Al-hakim pernah dua kali melakukan perjalannya
mencari ilmu ke Irak dan Hijaz. Perjalanan mencari ilmu yang kedua ini dilaksanakan
pda tahun 338 Hijriyah.
Adz-Dzahabi
berkata, “Abu Abdillah Al-hakim mendapakan sanad hadits yang ‘ali di Khurasan,
Irak dan daerah ma wara’an an-nahri. Dia melakukan perjalanannya mencari ilmu
ke Irak sewaktu berusia dua puluh tahun tidak lama setelah meninggalnya
Ash-Shaffar.
2. Sanjungan
Para Ulama
Abu Ath-Thahrir As-Salafi berkata,” aku telah
mendengar Ismail bin Abdul Jabar Al-Qadhi di daerah Qazwain berkata,” aku telah
mendengar Al-Khalil bin Abdullah Al-Hafizh ketika menyebut nama Abu Abdillah Al-hakim
dengan penuh hormat, dia berkata,” Abu Abdillah Al-hakim telah dua kali
mengujungi Irak dan Hijaz. Kunjungan keduanya terjadi pada tahun 338 Hijriyah,
dimana dia berdiskusi dengan Imam Ad-Daruquthni sampai ia ridha atas Abu
Abdillah Al-hakim. Abu Abdillah Al-hakim adalah seorang yang Tsiqah, mempunyai
ilmu luas dan karya mencapai kurang lebih lima ratus juz.
Abu Hazim Umar bin Ahmad bin Ibrahim Al-Abdawi Al-Hafidz berkata, “ sesungguhnya Abu Abdillah Al-hakim pernah diangkat menjadi hakim didaerah Nasa’ pada tahun 359 Hijriyah ketika daulah As-Samaniyah berkuasa dengan perdana menterinya yang bernama Abu Ja’far Al-Atabi.
Abu Hazim Umar bin Ahmad bin Ibrahim Al-Abdawi Al-Hafidz berkata, “ sesungguhnya Abu Abdillah Al-hakim pernah diangkat menjadi hakim didaerah Nasa’ pada tahun 359 Hijriyah ketika daulah As-Samaniyah berkuasa dengan perdana menterinya yang bernama Abu Ja’far Al-Atabi.
Pada waktu Al-Khalil bin Ahmad As-Sijzi Al-Qadhi
menemui Al-Atabi dan berkata,” Allah telah menganugrahkan kepadamu dengan
syaikh (Abu Abdillah Al-hakim). Dia telah mnyiapkan diri ke Nsa’ dengan membawa
300.000 hadits Rasulullah S.A.W. “mendengar
berita yang dibaca Al-Khalil As-Sijzi ini, wajah Al-Atabi lalu Nampak
berseri-seri karena gembira. Kemudian jabatan Abu Abdillah Al-hakim sebagai
hakim hendak dipindahkan tugaskan ke Urjan, akan tetapi dia menolaknya.
Aku telah mendengar para syaikh kami berkata,”Abu
Bakar Ibnu Ishaq dan Al-walid An-Naisaburi sering bertandang menemui Abu
Abdillah Al-hakim untuk menanyakan tentang Jarh wa At-Ta’dil, Illat hadits dan
menemukan hadits-hadits yang shahih dari yang tidak shahih.
Pada waktu itu ia tinggal bersama Abu Abdillah
Al-Ashami kurang lebih tiga tahun lamanya. Tak satu pun syaikh yang kau ketahui
lebih bertaqwa dan cepat bereaksi daripada Abu Abdillah Al-Ashami. Apabila ia
menemui dalam hadits, maka dia menyuruhku untuk menanyakan kepada Abu Abdillah
Al-Hakim dan menulis jawabannya. Jika apa yang aku tulis dari Imam Al-Hakim
terdapat jawabannya, maka Abu Abdillah Al-AShami akan memberikan hukum
keputusan hadits tersebut dengan jawaban Al-Hakim. Dia telah memilih para
gurunya selama 50 tahun.”
Abdul Ghafir Al-Farisi berkata,” Abu Abdillah
Al-hakim hanya berteman dengan imam pada masanya, yaitu Abu Bakar Ahmad bin
Ishaq Ash-Shibghi. Dia selalu bertanya kepada Ibnu Ishaq Ash-Shighi tentang Jarh
Wa Ta’dil dan illat hadits. Abu Bakar Ahmad Ibnu Ishaq As-Sibghi juga berwasiat
kepada Al-hakim mnengenai permasalahan madrasahnya Dar As-Sunah, sampai Abu
Bakar mempercayakn urusan madrasahnya kepada Abu Abdillah Al-hakim.
Aku juga sering mendengar para guru kami menceritakan hari-harinya dimasa lalu dengan berkata, “sesungguhnya para imam terkemuka dan terdepan dimasanya semisal Imam Sahl Ash-Shu’luki, Imam Ibnu Furak dan beberapa imam lainnya menghormati Abu Abdillah Al-hakim melebihi dari mereka sendiri. Mereka mengutamakan dan mendahulukan kepentingan Abu Abdillah Al-hakim karena kelebihan dan kemampuan menghafal makrifat yang dimilikinya.”
Aku juga sering mendengar para guru kami menceritakan hari-harinya dimasa lalu dengan berkata, “sesungguhnya para imam terkemuka dan terdepan dimasanya semisal Imam Sahl Ash-Shu’luki, Imam Ibnu Furak dan beberapa imam lainnya menghormati Abu Abdillah Al-hakim melebihi dari mereka sendiri. Mereka mengutamakan dan mendahulukan kepentingan Abu Abdillah Al-hakim karena kelebihan dan kemampuan menghafal makrifat yang dimilikinya.”
Ketika Abu Abdillah Al-hakim menghadiri suatu
pengajian, para Syaikh dan peserta yang hadir akan memuliakannya. Mereka setia
mendengarkan apa yang disampaikan Abu Abdillah Al-hakim karena hormat dan
fasihnya pembicaraanya.”
Al-Abdawi berkata, “aku telah mendengar Abu
Abdurrahman As-Sulami berkata, “pada waktu itu aku akan menulis hadits di juz
kitab bagian luar dari hadits Imam Abi Al-Husain Al-Hajjaji Al-Hafizh; ketika
aku mengambil pena untuk menulisnya, tiba-tiba Al-Hafizh membantingku dan
berkata, “apa-apaan ini! Aku(Al-Hafizh) telah menghafalnya dan Abu Abdillah Al-hakim
lebih hafizh dariku. Sedangkan aku tidak menjumpai seorangpun yang hafizh
selain Abu Ali An-Naisaburi dan Abu Abbas Ibnu Uqdah.”kemudian aku(As-Sulami)
bertanya kepada Ad-Daruquthni,” siapakah yang lebih hafizh di antara Ibnu
Mandah dan Abu Abdillah Al-hakim? Ad-Daruquthni menjawab,” Abu Abdillah
Al-hakim lebih mutqin (mantap) hafalannya”.
Ad-Dzahabi, ”Abu Abdillah Al-hakim adalah seorang
imam yang hafizh, kritukus perawi hadits yang dalm ilmunya serta syaihknya para
ulama ahli hadits.”
Adz-Dzahabi berkata lebih lanjut, “barang siap
mernungkan karya-karya Imam Abu Abdillah Al-hakim, pembahsannya ketika
meberikan imla’ dan analisa pandanganya menganai jalur-jalur periwayatan
hadits, maka ia kan mengakui kecerdasan dan kelebihan yang dimiliki Imam Abu Abdillah
Al-hakim.Sesungguhnya Imam Al-Hakim mengikuti jejak para pendahulunya dimana
para ulama setelahnya akan kerepotan mengikuti jerih payah sebagaimana yang di
lakukan Abu Abdillah Al-hakim. Dia hidup dengan terpuji dan tidak ada seorang
pun setelahnya menyamainya.”
Tajudin As-Subki mengatakan bahwasannya Abu Abdillah
Al-hakim adalah seorang imam yang mulia, hafizh yang banyak hafalannya dimana
ulama telah mengakui kemampuannya yang telah dia miliki. Banyak ahli hadits
berdatangan untuk menemuinya dari berbagai Negara karena keluasan ilmunya dan
banyaknya hadits yang diriwayatkannya. Para ulama sepakat bahwasanya Abu
Abdillah Al-hakim termasuk ulama yang paling pandai yang telah Allah utus guna
memelihara agama-Nya ini.
Abu Hazim berkata, “orang pertama kali yang popular
mengusai dan menghafal hadits berikut I’llat-I’llatnya di naisaburi setelah
Imam Muslim bin Al-Hajjaj adalah Ibrahim bin Abi Thalib yang semasa dengan imam
An-Nasa’I dan Ja’far Al-Faryabi. Syarqi yang semasa dengan Abu Bakar bin
Ziyaaaad An-Naisaburi dan Abu Al-Abbas bin Said. Kemudian Abu Ali Hafizh yang
semasa dengan Abu Ahmad Al-Assal dan Ibrahim bin Hamzah.
Setelah itu adalah Asy-Syaikhani, Abu Al-Husain
Al-Hajjaj dan Abu Ahmad Al-hakim yang semasa dengan Ibnu Adi, Ibnu Al-Mudzhaffar
dan Ad-Daruqthuni.
Sedangkan Abu Abdillah Al-hakim dimasanya adalah
seorang diri yang tidak ada ulama lain selain dirinya, baik di Hijaz, Irak,
Jabal, Rai Thabaristan, Qaus, Khurasan, dan daerah mawara’an an-nahri.” Inilah
sebagian penuturan Abu Hazim yang disampaikan dalam biografi Imam Abu Abdillah
Al-hakim. Di akhir kisahnya , Abu Hazim berkata,”semoga Allah menjadikan kita
sebagai orang-orang yang pandai bersyukur atas nikmatnya ini.”
3. Guru
Dan Murid-Muridnya
Guru-guru Abu Abdillah Al-hakim sebagaimana disebutkan
Adz-Dzahabi adalah: Ayahnya sendiri, Muhammad bin ali bin Umar Al-Mudzakkar,
abu Al-Abbas al-asham, Abu Ja’far Muhammad bin Shalehbin Hani’, Muhammad bin
Abdullah Ash-Shafar, Abu Abdillah Ibnu akhram, Abu Al-Abba Ibnu Mahbub, Abu
Hamid Hasnawiyah, Al-Hasan bin Ya’kub Al-Bukhari.
Juga, Abu An-Nadhar bin Muhammad bin Muhammad bin Yusuf, Abu Al-Walid Hasan bin Muhammad, Abu Amr Ibnu As-Samak, Abu Bakar An-Najar, Abu Muhammad Ibnu Darastawiayah, Abu Sahal bin Ziyad, Abdurrahman bin Hamdan Al-Jallab, Ali bin Muhammad bin Uqbah Asy-Syaibani dan abu ali Al-Hafizh. Abu Abdillah Al-hakim senantisa mau belajar dari orang lain meskipun itu dari sahabatnya sendiri.
Juga, Abu An-Nadhar bin Muhammad bin Muhammad bin Yusuf, Abu Al-Walid Hasan bin Muhammad, Abu Amr Ibnu As-Samak, Abu Bakar An-Najar, Abu Muhammad Ibnu Darastawiayah, Abu Sahal bin Ziyad, Abdurrahman bin Hamdan Al-Jallab, Ali bin Muhammad bin Uqbah Asy-Syaibani dan abu ali Al-Hafizh. Abu Abdillah Al-hakim senantisa mau belajar dari orang lain meskipun itu dari sahabatnya sendiri.
Sedangkan para murid Abu Abdillah Al-hakim adalah:
Ad-Daruqthni, Abu Al-Fath bin Abu Fawaris, Abul Ala’ Al-Wasithi, Muhammad bin
ahmad bin Ya’qub, Abu Dzar Al-Harawi, Abu Ya’la Al-Khalili, Abu Bakar
Al-Baihaqi, Abu Al-Qasim Al-Qusairi, Abu Shaleh Al-Muadzin, Az-Zaki Abdul Hamid
Al-buhari, Utsman Bin Muhammad Al-Mahmahi, Abu Bakar Ahmad bin Ali Bin Khalaf
Asy-Syairazi dan masih banyak yang lainnya.
Abu Abdillah Al-hakim belajar ilmu qira’at dari
Ibnul Imam, Muhammad bin Abu Manshur Ash-Sharam, Abu Abu Ali bin An-Naqqar
Al-Kuffi dan Abu Isa Bakkar Al-Baghdadi. Dan, dia belajar tengtang madzhab dari
Ibnu Abi Hurairah, Abu SahalAsh-Shu’luki dan Abu Al-Walid Hisan Bin Muhammad.
Al-Hakim sering berdiskusi dengan Al-Ja’labi, Ad-Daruquthni dan yang lain.
Sesuatu yang membuatku paling kagum adalah setelah melihat
bahwa Abu Umar Adh-Dhalmanki telah menulis karya disiplin Ilmu Hadits dari Imam
Abu Abdillah Al-hakim. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 339 Hijruyah
dimana Abu Umar Adh-Dhalmanki menulis karya Ilmu Hadits tersebut dari seorang
syaikh dari Abu Abdillah Al-hakim.
4. Karya-Karyanya.
Abu Hazim Umar bin Ahmad Al-Abduwi Al-Hafizh
berkata, “aku telah mendengar Abu Abdillah Al-hakim, seorang imam ahli hadits
pada masanya, berkata, “aku telah minum air zamzam dengan memohon kepada Allah
agar aku diberi anugrah karya yang bagus”.
Abu Thahir berkata, “aku telah bertanya kepada Sa’ad
bin Ali Al-Hafizh tentang empat ulama yang hidupnya satu masa. Pertayaanku
adalah, “dari keempatnya, siapakah yang paling hafizh?” lalu, Sa’ad bin Ali
bertanya tentang sipakah empat ulama yang kau maksudkan. Setelah aku jelaskan
bahwa mereka adalah Ad-Daruquthni, Abdul Ghani, Ibnu Mandah dan Al-Hakim,
akhirnya Sa’ad bin Ali menjawab seputar mereka dengan, “Ad-Daruquthni adalah
orang yang paling tahu tentang illat-illat hadits, Abdul Ghani adalah orang
yang paling mengerti tentang sejarah manusia, Ibnu Mandah adalah orang yang
paling banyak memiliki hadits berikut makrifat yang sempurna, dan Al-Hakim
adalah orang yang paling bagus dalam berkarya diantara mereka berempat.”
Adz-Dzahabi berkata, “Al-Hakim telah memulai
menuangkan ilmunya dalam bentuk karya kitab pada tahun 337 Hijriyah. Jumlah
karya Abu Abdillah Al-Hakim mencapai sekitar 1000(seribu) juz yang terdiri dari
tahkrij Ash-Shahihain, Al-Illal, At-Tarajum, Al-Abwab dan Aku-Syuyukh.
Disamping itu, Abu Abdillah Al-Hakim juga menulis kitab-kitab,
diantaranya :
a. Al-Abwâb
( "The Bab")
b. Al-Amali
( "The Dictations")
c. Amali
al-`Ashiyyât (" Malam Dictations ")
d. Fadâ'il
al-Syafi'i ( "Kemuliaan yang mendalam al-Syafi'i")
e. Fawâ'id
al-Nusakh ( "Keuntungan dari Salinan")
f. Fawâ'id
al-Khurâsâniyyîn ( "Manfaat Rakyat Khurasan")
g. Iklîl
fi al-Dala'il al-Nubuwwa ( "mahkota: The Marks of kenabian")
h. Al-`ilal
(" The Cacat hadits ")
i.
Ma bi Ikhrâjihi
Kullu Tafarrada Wahidin min al-Imâmayn ( "Laporan Ditemukan Hanya dalam
al-Bukhari atau Hanya di Muslim")
j.
Al-Madkhal ila
`Ilm al-Sahih (" Pengantar Ilmu Sound Laporan ")
k. Ma
`rifat Anwâ` `Ulum al-Hadits (" Pengetahuan tentang Berbagai Jenis Ilmu
Hadis ")
l.
Al-Mustadrak
`ala al-Sahîhayn (" Tambahan untuk Apa yang Hilang Dari Al Bukhari dan
Muslim ")
m. Muzakkâ
al-Akhbar ( "Verified Laporan")
n. Al-Sahîhân
( "Dua Kitab Sahih Hadis")
o. Al-Talkhîs
( "The Summary")
p. Tarâjim
al-Musnad Shart `ala al-Sahîhayn (" Laporan Musnad Ahmad Sesuai Kriteria
Itu Dua Kitab Sahih ")
q. Tarâjim
al-Shuyûkh ( "Biografi Shaykhs")
r.
Tarikh `Ulama 'Ahlus
Naysabûr (" Sejarah dari Naysabûr Cendekiawan")
5. Wafat
Al-Hakim
Abu Musa Al-Madani berkata, “Sesungguhnya Abu
Abdillah Al-Hakim masuk kamar mandi untuk mandi, ketika keluar, tiba-tiba
terdengar suara ‘ah’ pada waktu terdengar suara ‘ah’ itulah, ruh Abu Abdillah
Al-Hakim meniggalkan badannya. Kemudian jasadnya dimakamkan setelah Ashar hari
Rabu. Abu Bakar Al-Qadhi turut menyalati jenazah”.
Adz-Dzahabi berkata, “ Imam Abu Abdillah Al-Hakim
meninggal bulan safar tahun 405 Hijriyah.” Al-Hasan bin Asy’ats Al-Qursy
berkata, “dalam tidur, aku melihat Imam Abu Abdillah Al-Hakim menunggang kuda
dalam kondisi yang amat baik sekali sambil berkata, “selamat.” Lalu aku
bertanya, “ wahai Al-Hakim, dalm hal apa?” Abu Abdillah Al-Hakim menjawab, “
dalam menulis hadits. “ As-Subki berkata, “menurutku yang demikian itu benar”.
B.
Al-Baihaqi
1. Biografi
Imam Al Baihaqi, yang bernama lengkap Imam Al-Hafith
Al-Mutaqin Abu Bakr Ahmed ibn Al-Hussein ibn Ali ibn Musa Al Khusrujardi
Al-Baihaqi, adalah seorang ulama besar dari Khurasan (desa kecil di pinggiran
kota Baihaq) dan penulis banyak buku terkenal. Imam Baihaqi hidup ketika
kekacauan sedang marak di berbagai negeri Islam. Saat itu kaum muslim
terpecah-belah berdasarkan politik, fikih, dan pemikiran. Antara kelompok yang
satu dengan yang lain berusaha saling menyalahkan dan menjatuhkan, sehingga
mempermudah musuh dari luar, yakni bangsa Romawi, untuk mencerai beraikan
mereka.
Dalam masa krisis ini, Imam Baihaqi hadir sebagai
pribadi yang berkomitmen terhadap ajaran agama. Dia memberikan teladan
bagaimana seharusnya menerjemahkan ajaran Islam dalam perilaku keseharian.
Setelah sekian lama menuntut ilmu kepada para ulama
senior di berbagai negeri Islam, Imam Baihaqi kembali lagi ke tempat asalnya,
kota Baihaq. Di sana, dia mulai menyebarkan berbagai ilmu yang telah didapatnya
selama mengembara ke berbagai negeri Islam. Ia mulai banyak mengajar. Selain mengajar, dia juga aktif menulis buku.
Dia termasuk dalam deretan para penulis buku yang produktif. Diperkirakan
buku-buku tulisannya mencapai seribu jilid. Tema yang dikajinya sangat beragam,
mulai dari akidah, hadits, fikih, hingga tarikh. Banyak ulama yang hadir lebih
kemudian, yang mengapresiasi karya-karyanya itu. Hal itu lantaran pembahasannya
yang demikian luas dan mendalam.
2. Sanjungan
Para Ulama
As-Sabki menyatakan: “Imam Baihaqi merupakan satu di
antara sekian banyak imam terkemuka dan memberi petunjuk bagi umat Muslim.
Dialah pula yang sering kita sebut sebagai ‘Tali Allah’ dan memiliki
pengetahuan luas mengenai ilmu agama, fikih serta penghapal hadits.”
Abdul-Ghaffar Al-Farsi Al-Naisabouri dalam bukunya
“Thail Tareekh Naisabouri”: Abu Bakr Al-Baihaqi Al Hafith, Al Usuli Din,
menghabiskan waktunya untuk mempelajari beragam ilmu agama dan ilmu pengetahuan
lainnya. Dia belajar ilmu aqidah dan bepergian ke Irak serta Hijaz (Arab Saudi)
kemudian banyak menulis buku.
Imam Baihaqi juga mengumpulkan Hadits-hadits dari
beragam sumber terpercaya. Pemimpin Islam memintanya pindah dari Nihiya ke
Naisabor untuk tujuan mendengarkan penjelasannya langsung dan mengadakan bedah
buku. Maka di tahun 441, para pemimpin Islam itu membentuk sebuah majelis guna
mendengarkan penjelasan mengenai buku ‘Al Ma’rifa’. Banyak imam terkemuka turut
hadir.
Sementara itu, dalam Wafiyatul A’yam, Ibnu Khalkan
menulis, “Dia hidup zuhud, banyak beribadah, wara’, dan mencontoh para salafus
shalih.”
Beliau terkenal sebagai seorang yang memiliki kecintaan besar terhadap hadits dan fikih. Dari situlah kemudian Imam Baihaqi populer sebagai pakar ilmu hadits dan fikih.
Beliau terkenal sebagai seorang yang memiliki kecintaan besar terhadap hadits dan fikih. Dari situlah kemudian Imam Baihaqi populer sebagai pakar ilmu hadits dan fikih.
At-Taj As-Subki mengatakan, “Imam Al-Baihaqi adalah
salah satu imam kaum muslimin, penunjuk kebenaran bagi kaum mukminin, dan da’I
yang mengajak kepada tali Allah yang kukuh. Ia adalah seorang Al-Hafizh yang
besar, ahli ushul yang cerdas, zuhud, wira’I, puas dengan Allah, dan membela
mazhab baik dasar-dasar maupun cabang-cabangnya. Ia adalah gunung dari
gunung-gunung ilmu.”
3. Guru
Dan Murid
Guru-gurunya Imam Adz-Dzahabi mengatakan, “Al Baihaqi
mendengarkan hadits dari Abu Al-Hasan Muhammad bin Al-Hasan Al-Alawi, Abu
Abdillah al-Hakim, Abu Tharir bin Mahmasy, Abu Bakar bin Faurak, Abu Ali
Ar-Raudzabari, Abdullah bin Yusuf bin Banawih, Abu Abdirrahman As-Silmi,
sejumlah ulama di Khurasan, Hilal bin Muhammad Al-Haffar, Abu Al-Husain bin
Busyrah, Ibnu Ya’qub Al-Iyadhi, sejumlah ulama Baghdad, Al-Hasan bin Farras di
Makkah, Janah bin Nadzir, dan sejumlah ulama di Kufah.”
Murid-muridnya
Murid-muridnya
Adz-Dzahabi mengatakan, “Murid-muridnya adalah
Syaikh Al-Islam Abu Ismail Al-Anshari, Ismail bin Ahmad (anaknya), Abu Al-Hasan
Ubaidillah bin Muhammad bin Ahmad (cucunya), Abu Zakariya Yahya bin Mandah
Al-Hafizh, Abu Al-Ma’ali Muhammad bin Ismail Al-Farisi, Abdul Jabbar bin
Muhammad Al-Khawari, Abdul Hamid bin Muhammad Al-Khawari, Abu Bakar Abdurrahman
Al-Buhairi An-Naisaburi yang meninggal pada tahun 540 Hijriah, dan sejumlah
murid-murid lain.”
4. Karya-Karya
Di antara karya-karya Baihaqi, Kitab as-Sunnan
al-Kubra yang terbit di Hyderabat, India, 10 jilid tahun 1344-1355, menjadi
karya paling terkenal. Buku ini pernah mendapat penghargaan tertinggi. Dari pernyataan as-Subki, ahli fikih, usul
fikih serta hadits, tidak ada yang lebih baik dari kitab ini, baik dalam
penyesuaian susunannya maupun mutunya.
Dalam karya tersebut ada catatan-catatan yang selalu
ditambahkan mengenai nilai-nilai atau hal lainnya, seperti hadits-hadits dan
para ahli hadits. Selain itu, setiap jilid cetakan Hyderabat itu memuat indeks
yang berharga mengenai tokoh-tokoh dari tiga generasi pertama ahli-ahli hadits
yang dijumpai dengan disertai petunjuk periwayatannya.
Itulah di antara sumbangsih dan peninggalan berharga
dari Imam Baihaqi. Dia mewariskan ilmu-ilmunya untuk ditanamkan di dada para
muridnya. Di samping telah pula mengabadikannya ke dalam berbagai bentuk karya
tulis yang hingga sekarang pun tidak usai-usai juga dikaji orang.
Beberapa karya Imam Baihaqi, antara lain:
Beberapa karya Imam Baihaqi, antara lain:
a. Ma`arifa
al-Sunan wa al-Athar
b. Bayan
Khata Man Akhta`a `Ala al-Shafi`i
c. Al-Mabsut
d. Al-Asma’
wa al-Sifat
e. Al-I`tiqad
`ala Madhhab al-Salaf Ahl al-Sunna wa al-Jama`a
f. Dala’il
al-Nubuwwa
g. Shu`ab
al-Iman
h. Al-Da`awat
al-Kabir
i.
Al-Zuhd al-Kabir
j.
Al-Arb`un
al-Sughra
k. Al-Khilafiyyat
l.
Fada’il al-Awqat
m. Manaqib
al-Shafi`i
n. Manaqib
al-Imam Ahmad
o. Tarikh
Hukama al-Islam
5. Wafat
Al-Baihaqi
Adz-Dzahabi mengatakan, “Setelah orang-orang
mendengarkan pemaparan ilmunya yang terakhir, ia kemudian sakit dan akhirnya
meninggal dunia pada tanggal 10 Jumadal Ula tahun 458 Hijriah. Ia dimandikan,
dikafankan, dan dimasukkan ke dalam peti untuk dipindah ke Baihaq, suatu tempat
yang jauhnya dari Naisabur dua hari perjalanan unta. Ia hidup selama 74 tahun.”
BAB III
I. PENUTUP
A.
Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat di makalah ini yaitu
al-hakim dan al-baihaqi merupakan ulama hadist besar yang mengorbankan jiwa
raganya untuk mempertahankan hadist dan mengembangkan hadist. al-hakim dan
al-baihaqi juga menyumbangkan berbagai karya-karya untuk pertumbuhan hadist
serta mempertahankan extensi hadist-hadist shahih
B.
Saran
Saran untuk pembaca makalah ini
yaitu kita harus mengenal para tokoh islam di bidang hadist karena merekalah
kita dapat menemukan hadist-hadist shahih oleh sebab itu kita harus mengetahui
biografi, latar belakang serta karya-karya beliau.
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
