Follow Us @soratemplates

Friday, 1 March 2013

Yang Menyadarkanku

Sebelumnya aku minta maaf untuk keacuhanku ini. Entah apa yang tengah bergejolak di pikiranku saat terdengar nada dering handphone menunjukan ada yang memanggil (alias telfon). Aku hanya terdiam, membiarkan begitu saja handphone bergetar sambil melantunkan nada yang telah ku atur supaya tidak begitu berisik. Ada perasaan takut, kecewa bahkan sedih kalau harus ku sadari ternyata aku memang salah. Salah disini ku tunjukan pada diri sendiri bukan salah kepada orang yang menghubungiku. Tapi, kenapa harus ku lampiaskan rasa bersalahku pada sebuah alat komunikasi? Juga pada orang yang tengah mengkhawatirkan keadaanku hingga berulangkali menghubungiku ? Aahh… payah aku, orang yang selama ini menjaga hatinya untukmu kenapa kau sia-siakan?

Muncul berbagai pertanyaan yang terus saja memaksaku untuk menjawabnya. Tapi ternyata aku lemah, aku pengecut, aku terlalu takut untuk menjawab rentetan pertanyaan yang di tunjukan pada kejujuranku untuk mengakui sebenarnya kenapa aku ini? Masih saja ku Tanya diri ini dengan pertanyaan itu. Kenapa aku? Hilang sudah jawaban yang telah ku siapkan, karena terlalu banyak yang kupikirkan.
 

Itulah hal yang kadang membuatku drop… dengan kata lain banyaknya pikiran yang membebani semakin lama semakin membuatku sakit, baik itu sakit batinnya ataupun harus terkapar lemas di sudut kamar. Yah… begitulah aku yang masih sangat labil. Belum mampu mengatur waktu untuk setidaknya membaringkan tubuh dengan tenang diatas kasur. Aku selalu mengejar waktu untuk menyelesaikan tugas, padahal badan ingin sekali istirahat tapi aku tetap saja memaksa. Aahh… dasar aku ini tidak mau tau kondisi diri sendiri. Apa sih susahnya berbaring barang sejenak, dua atau tiga jam saja untuk istirahat? Repot juga kalau sudah seperti ini.

Saat ku tulis posting ini, aku tengah merasakan sakit yang lumayan. Semenjak tiga hari yang lalu, mag ku kambuh untuk yang kesekian kalinya. Aku memang harus berurusan dengan penyakit ini. Penyakit yang bagi sebagian orang biasa saja karena itu hanya terjadi bagi orang- orang yang tidak mau teratur makan. Huh… akulah salah satunya, si pemalas untuk rajin makan. Sering sii sakit ini ku derita, tapi untuk yang kali ini lumayan membuatku jera. Tak habis pikir, sepulangku dari markas (Lab. Komp) menjelang maghrib, ada yang aneh di perutku, semacam rasa ngilu di tambah pernafasan yang tersendat. Tanpa daya, akupun menjatuhkan badan ini di lantai kamar ruang dalam. Setidaknya untuk melegakan rasa sakit yang semakin menggerogoti perut. Aku terkapar mengeliat menahan rasa sakit. Sampai menjelang pukul 19.00 belum juga ku dapati obat penawarnya. Aku menyerah, pasrah dengan kondisiku yang sekarang ini. Untung aku ingat dengan adik kelas yang akrab denganku. Rudi lah yang mau untuk mencarikanku obat sementara sebagai pereda sakit yang tak tertahankan ini.

Tak terasa sakit ini ternyata ku bawa hingga pagi menjelang. Masih saja aku tersenyum-senyum mengerang sambil menahan perut yang serasa semakin menyakitkan. Bahkan tak ada yang tau sakitku ini. Aku hanya beralasan demam saja. Untung saja mereka menyikapiku biasa saja, aku tak mau merepotkan mereka (penghuni sekamar). Hingga akhirnya pun aku memaksakan diri untuk beraktifitas seperti biasa. Tapi…. Ternyata aku salah, yang ku perbuat itu justru semakin membuatku terpuruk dalam jeritan sakit. Maafkan aku badan, tak mau mengertikanmu.

Untunglah, Sang Pencipta masih memberiku kesempatan hingga saat ini. Saat ku tulis posting ini dengan jari jemariku sendiri. Aku yakin ada maksud yang besar di balik semua itu…