Pagi
ini terasa lain untukku, meski bangun dalam keadaan letih karena mungkin
kemarin Minggunya, aku terlalu bersemangat berolah raga (basket) sehingga
mungkin badan terkaget dengan kondisi itu. Tanpa berfikir bahwa fisikku yang
lemah, aku terus saja bermain basket samapi nafas tersengal-sengal. Barangkali
itu penyebabnya kenapa pagi ini kondisi badan tidak enak.
Setelah
merapikan penampilan, aku bergegas menuju tempat dimana biasanya aku berdiri
menunggu instruksi untuk memulai pertunjukkan (apa.. sii..??). penasaran yaa…
??? Itulah tugasku sebagai pianist yang bisa diandalkan ketika berjalannya
upacara. Hahaaa… sok banget loe lah… ^^ tapi memang nyatanya seperti itu.
Malamnya saja menjelang upacara keesokan harinya, aku harus membimbing
anak-anak koor untuk memperbaiki kualitas suara yang mereka keluarkan secara
bersama-sama. Sebagai mantan pembimbing kamar, bahagia rasanya bisa berkumpul
dengan adik-adik kelas lagi karena sekarang aku sudah tidak satu kamar lagi
dengan mereka.
Setelah
berkaca menatap diri ini sambil tersenyum simpul ku sadari betapa murah-Nya
Alloh melimpahkan diri ini (sebagai manusia) dengan penuh kesempurnaan. Alhamdulillah…
aku bersyukur Alloh menjadikan ku( sebagai manusia) makhluk yang paling mulia
dari pada makhluk ciptaan-Nya yang lain. Allohumma akhsanta kholqi fakhasin
khuluqi,,, Berpakaian layaknya karyawan muda di sebuah Madrasah dengan
pedenya menuju lapangan pusat yang berada di hadapan deretan kelas Madrasah ‘Aliyah.
Sambil menenteng lepy merah milik Pondok Pesantren aku tersenyum bahagia masih
mampu hadir disini di Ma’had tercinta Miftahussalam Banyumas. Berdiri di dekat
seperangkat kontroler sound system cukup memicu mental yang ku miliki. Kenapa??
Karena sound system yang berada jauh di sudut pandang peserta upacara secara
otomatis akupun ikut di perhatikan mereka. Meskipun demikian aku mampu
mengontrol diri supaya tidak malu (malu-maluin maksudnya… gkgk-).
Upacara
berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan yang mengganggu. Aku pun mampu
mengiringi regu koor dengan baik. Sampai di tengah upacara yaitu ketika
memasuki “Amanat Pembina Upacara”… aku bersiap beralih tempat di belakang
peserta upacara untuk ikut menyimak apa yang hendak di sampaikan oleh Pembina. Sebagai
Pembina kali ini di isi oleh beliau al Ustadz Kasbiyanto, S.Pd.
Cuplikan
Isi Amanat Pembina
Motivation.
Inilah hal pertama yang harus ada pada diri setiap kita sebelum melakukan
sesuatu. Terlebih apabila kita mencita-citakan suatu hal maka sudah di pastikan
terdapat motivasi yang menyembabkan kita menginginkan hal tadi. Sama halnya
dengan kehidupan kita selama di pesantren Miftahussalam juga harus memiliki
motifasi untuk mendorong diri meraih sesuatu yang kita inginkan.
“No
way to understanding this religion exept with understanding Arabic.”
Sangat
luar biasa ketika kita mampu memaknai kalimat itu. Sebagai santri yang memahami
tata aturan pesantren pastilah sedih ketika mengetahui bahwa dirinya belum mampu
menerapkan pribadinya sesuai dengan kalimat tadi. Bagaimana kenyataan yang kita
lihat pada akhir-akhir ini, semakin terpuruknya bahasa Arabic di pesantren ini
yang seharusnya para santri mampu menjunjung tinggi nama baik pesatren dengan
keseharian di luar.