Follow Us @soratemplates

Friday, 1 March 2013

No Way to Understand exept

Pagi ini terasa lain untukku, meski bangun dalam keadaan letih karena mungkin kemarin Minggunya, aku terlalu bersemangat berolah raga (basket) sehingga mungkin badan terkaget dengan kondisi itu. Tanpa berfikir bahwa fisikku yang lemah, aku terus saja bermain basket samapi nafas tersengal-sengal. Barangkali itu penyebabnya kenapa pagi ini kondisi badan tidak enak.

Setelah merapikan penampilan, aku bergegas menuju tempat dimana biasanya aku berdiri menunggu instruksi untuk memulai pertunjukkan (apa.. sii..??). penasaran yaa… ??? Itulah tugasku sebagai pianist yang bisa diandalkan ketika berjalannya upacara. Hahaaa… sok banget loe lah… ^^ tapi memang nyatanya seperti itu. Malamnya saja menjelang upacara keesokan harinya, aku harus membimbing anak-anak koor untuk memperbaiki kualitas suara yang mereka keluarkan secara bersama-sama. Sebagai mantan pembimbing kamar, bahagia rasanya bisa berkumpul dengan adik-adik kelas lagi karena sekarang aku sudah tidak satu kamar lagi dengan mereka.

Setelah berkaca menatap diri ini sambil tersenyum simpul ku sadari betapa murah-Nya Alloh melimpahkan diri ini (sebagai manusia) dengan penuh kesempurnaan. Alhamdulillah… aku bersyukur Alloh menjadikan ku( sebagai manusia) makhluk yang paling mulia dari pada makhluk ciptaan-Nya yang lain. Allohumma akhsanta kholqi fakhasin khuluqi,,, Berpakaian layaknya karyawan muda di sebuah Madrasah dengan pedenya menuju lapangan pusat yang berada di hadapan deretan kelas Madrasah ‘Aliyah. Sambil menenteng lepy merah milik Pondok Pesantren aku tersenyum bahagia masih mampu hadir disini di Ma’had tercinta Miftahussalam Banyumas. Berdiri di dekat seperangkat kontroler sound system cukup memicu mental yang ku miliki. Kenapa?? Karena sound system yang berada jauh di sudut pandang peserta upacara secara otomatis akupun ikut di perhatikan mereka. Meskipun demikian aku mampu mengontrol diri supaya tidak malu (malu-maluin maksudnya… gkgk-).


Upacara berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan yang mengganggu. Aku pun mampu mengiringi regu koor dengan baik. Sampai di tengah upacara yaitu ketika memasuki “Amanat Pembina Upacara”… aku bersiap beralih tempat di belakang peserta upacara untuk ikut menyimak apa yang hendak di sampaikan oleh Pembina. Sebagai Pembina kali ini di isi oleh beliau al Ustadz Kasbiyanto, S.Pd.

Cuplikan Isi Amanat Pembina

Motivation. Inilah hal pertama yang harus ada pada diri setiap kita sebelum melakukan sesuatu. Terlebih apabila kita mencita-citakan suatu hal maka sudah di pastikan terdapat motivasi yang menyembabkan kita menginginkan hal tadi. Sama halnya dengan kehidupan kita selama di pesantren Miftahussalam juga harus memiliki motifasi untuk mendorong diri meraih sesuatu yang kita inginkan.

“No way to understanding this religion exept with understanding Arabic.”  

Sangat luar biasa ketika kita mampu memaknai kalimat itu. Sebagai santri yang memahami tata aturan pesantren pastilah sedih ketika mengetahui bahwa dirinya belum mampu menerapkan pribadinya sesuai dengan kalimat tadi. Bagaimana kenyataan yang kita lihat pada akhir-akhir ini, semakin terpuruknya bahasa Arabic di pesantren ini yang seharusnya para santri mampu menjunjung tinggi nama baik pesatren dengan keseharian di luar.